Program sosialisasi tersebut merupakan bagian dari uji coba nasional yang digagas Kementerian Kesehatan dan dijalankan serentak di sejumlah daerah, termasuk Provinsi Bali, DIY, dan Lombok. Di Buleleng, kegiatan ini melibatkan perangkat desa, camat, organisasi keagamaan, serta organisasi profesi agar informasi mengenai vaksin dapat tersalurkan secara tepat hingga ke tingkat masyarakat.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Buleleng, I Nyoman Budiastawan, menjelaskan bahwa vaksin Hexavalen dipilih sebagai strategi pemerintah untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas pelayanan imunisasi. “Vaksin Hexavalen ini merupakan kombinasi enam antigen—difteri, pertusis, tetanus, hepatitis B, Haemophilus influenzae tipe b, dan polio—sehingga dalam satu suntikan, bayi atau balita langsung mendapatkan perlindungan lengkap,” jelasnya.
Budiastawan menambahkan bahwa vaksin kombinasi membantu mengurangi jumlah suntikan, mengurangi rasa nyeri, dan menekan potensi efek samping. Kalaupun muncul reaksi, biasanya hanya demam ringan yang dapat diatasi dengan obat penurun panas.
Sebagai rangkaian sosialisasi, Dinas Kesehatan juga menggelar vaksinasi massal untuk sekitar 100 bayi dan balita dari tiga kecamatan terdekat: Kubutambahan, Sawan, dan Buleleng. Program introduksi Hexavalen telah berjalan sejak 6 Oktober 2025, dengan sasaran bayi yang lahir mulai 9 Juli 2025 dan diberikan pada usia 2, 3, dan 4 bulan. “Seluruh Posyandu di Kabupaten Buleleng sudah menerima distribusi vaksin Hexavalen, sehingga masyarakat dapat mengaksesnya baik di Posyandu maupun fasilitas kesehatan pemerintah,” tambahnya.
Pemerintah berharap kehadiran vaksin Hexavalen dapat meningkatkan cakupan imunisasi dasar lengkap, mencegah kembalinya Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), serta memperkuat kekebalan kelompok. Program ini juga mendukung visi Indonesia Emas 2045 melalui penguatan layanan kesehatan primer dan perlindungan kesehatan anak.
