Penjualan Merosot, Pedagang Kembang Api di Buleleng Gigit Jari.

Advertisement

Masukkan script iklan 970x90px


 

Penjualan Merosot, Pedagang Kembang Api di Buleleng Gigit Jari.

One Redaksi
Kamis, 29 Desember 2022



Singaraja-
Malam pergantian tahun makin dekat. Momen menjelang tahun baru ini biasanya merupakan berkah bagi para pedagang kembang api, namun pada tahun ini berbeda. Jika tahun-tahun sebelumnya pembelian kembang api sangat ramai, pada akhir tahun ini justru sebaliknya. 

Sejumlah pedagang kembang api di kawasan Pasar Anyar Singaraja, tepatnya di sepanjang Jalan Ponogoro pun mengeluhkan sepinya pembeli hingga penjualan yang merosot drastis. 

Salah seorang pedagang bernama Lina memperkirakan sepinya pembeli tahun ini merupakan imbas Pandemi Covid-19 yang belum pulih seutuhnya. Pasalnya selama 2 tahun belakangan, perayaan akhir tahun hanya dilaksanakan di rumah.

 Selain itu juga himbauan yang telah diberikan oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Buleleng yang memperketat ijin diselenggarakannya pesta kembang api serta larangan menjual mercon kian membuat pedagang kembang api tercekik.

“Dagangan sekarang masih dikit, apalagi sesudah corona itu dagangan masih sepi. Masih belum bisa balik modal jadi cuma bisa tunggu pas hari-H,” ujarnya, saat ditemui Kamis (29/12/2022).

Lina mengaku telah berjualan kembang api selama 15 tahun. Sementara penjualan kembang api pada akhir tahun ini kata dia makin merosot sehingga belum dapat mengembalikan modal dagangan. 

Ia merinci dalam sehari hanya dapat menghasilkan penghasilan kotor paling banyak sebesar Rp. 300 ribu hingga Rp. 400 ribu. Berbanding terbalik dengan sebelum Pandemi Covid-19 yang bisa menghasilkan penjualan kembang api mencapai Rp. 2 juta per hari.

“Kalau hari biasa sebelum hari-H paling cuma dapet 300-400ribu, pas hari-H nanti baru bisa dapet banyak, dulu sebelum corona dagangan saya bisa penuh dua gerobak, sekarang cuma bisa jual 1 gerobak saja. Ini kalau gak laku biasanya saya simpen, saya jual lagi di tahun besoknya,” jelasnya.

Lina mengaku keuntungan bersih yang ia peroleh untuk tiap kembang api yang terjual hanya berkisar Rp. 5 ribu – Rp 10 ribu untuk kembang api ukuran besar, dan Rp. 1000 untuk yang kecil.

“Saya gak berani naikan harga yang penting laku, satu barang paling dapat unung Rp. 5 ribu. Ada juga yang Rp. 10 ribu, kalau yang besar, kalau yang kecil itu cuma seribu untungnya,” jelasnya.

“Saya berharap sih mudah-mudahan bisa ramai lagi, biar dagangan saya cepap habis, dan semoga pemerintah gak terlalu ketat, jadi kembang apinya bisa terjual dan cepat habis,” imbuhnya. (Dayu