| Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan Mengupas Makna Dari Idul Adha dan Waisak Dalam Bingkai Persatuan dan Kebhinekaan. |
Singaraja kembali menjadi ruang diskusi berbagai elemen masyarakat untuk membahas persoalan pembangunan daerah. Dalam Dialog Kebangsaan yang digelar di Warung Bali Lalah, Jalan Yudistira I Singaraja, Minggu 31 Mei 2026, sejumlah jurnalis, tokoh masyarakat, NGO, dan mahasiswa menyoroti kondisi Buleleng yang dinilai belum mampu melesat secepat wilayah Bali Selatan meski memiliki sumber daya yang melimpah.
Dialog yang mengangkat tema Memaknai Hari Raya Idul Adha dan Waisak dalam Bingkai Persatuan dan Kebhinekaan itu menghadirkan tokoh masyarakat Dr. dr. Ketut Putra Sedana dari Puskor Hindunesia Korda Buleleng serta Ketua SMSI Kabupaten Buleleng, Francelino XXF.
Dalam pemaparannya, Francelino yang dikenal sebagai jurnalis senior menyampaikan pentingnya peran pers, NGO, dan mahasiswa dalam menjaga ruang demokrasi sekaligus mengawal pembangunan daerah melalui kritik yang konstruktif. Menurutnya, fungsi kontrol sosial harus tetap dijalankan tanpa kehilangan keberanian maupun independensi.
Di hadapan peserta yang terdiri dari jurnalis, aktivis, dan mahasiswa, ia menegaskan bahwa pembangunan daerah membutuhkan pengawasan dari kelompok intelektual agar kebijakan yang diambil benar-benar berpihak kepada masyarakat.
"Pers, NGO dan Mahasiswa harus tetap kritis independen dan tidak gentar dalam segala bentuk intimidasi dalam upaya membangunan daerah bangsa dan negara," pesannya.
Ia juga mengingatkan agar peran mahasiswa dan jurnalis tetap berada dalam jalur yang positif dengan terus memberikan masukan kepada pemerintah daerah demi terciptanya pembangunan yang berdampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Sementara itu, Dr. dr. Ketut Putra Sedana memberikan apresiasi terhadap terselenggaranya forum dialog yang dinilai menjadi ruang penting untuk bertukar pikiran dan memperkuat kebersamaan di tengah keberagaman.
"Tradisi Moderasi suasana kebathinan harus terus ditumbuh kembangkan. Nuansa perbedaan yang asa harus disatukan untuk tujuan yang lebih baik," ucapnya mengawali diskusi.
Menurutnya, kondisi kehidupan berbangsa saat ini masih rentan terhadap konflik akibat maraknya informasi yang tidak akurat. Karena itu, ia menilai jurnalis memiliki peran strategis dalam menghadirkan informasi yang independen dan dapat dipertanggungjawabkan.
"Saya pribadi dan atas nama Puskorhindunesia menyampaikan terimakasih kepada jurnalis, NGO dan mahasiswa yang sudah membuka ruang ruang positif dalam kebersamaan. Semoga kerjasama ini senantiasa berjalan bukan hanya hari ini tapi terus berkelanjutan," ucapnya.
Diskusi semakin menarik ketika Muhammad Fikhi selaku Sekretaris Umum HMI Cabang Singaraja mempertanyakan alasan Buleleng dinilai sulit berkembang dibandingkan wilayah Bali Selatan, padahal memiliki potensi yang tidak kalah besar.
Menanggapi hal tersebut, Dr. Ketut Putra Sedana mengaku turut merasakan keprihatinan yang sama. Ia menilai Buleleng memiliki kekuatan besar dari sektor kelautan, kualitas sumber daya manusia, hingga sektor pariwisata. Bahkan banyak putra daerah Buleleng yang menduduki posisi penting di birokrasi maupun lembaga legislatif.
"Harapan kita semua bahwa dengan segala potensi SDA dan SDM tersebut betul betul harus disatukan dengan tujuan agar Buleleng bangkit dan menjadi yang terbaik," pungkasnya.
Pandangan serupa juga disampaikan mahasiswa GMKI Buleleng yang diwakili Leon. Ia berharap para tokoh dan kalangan intelektual di Buleleng lebih dekat dengan mahasiswa sehingga kolaborasi yang terbangun tidak berhenti pada diskusi, tetapi mampu melahirkan gagasan dan langkah nyata bagi daerah.
Dalam kesempatan yang sama, Ketut Suartika dari Komite KPK Wilayah Bali serta Ketua Lentera Bali Dwipa, Ki Guru Karjana, menegaskan pentingnya menjaga tradisi diskusi publik sebagai bagian dari budaya kritis masyarakat Buleleng.
"Kita harus menyadari juga Buleleng adalah simbol moderinasasi, kemajuan berpikir dan simbol independensi dalam pergerakan bagaimana dulu pasca 98 Buleleng banyak mengalami masa masa sulit dan penuh dinamika, saya beberapa kali dalam kondisi kritis ketika menyuarakan kasus kasus korupsi di Buleleng, dan kita hrus berani dibarisan intelektual mengkritisi setiap ketidak adilan," ucapnya.
Dialog kebangsaan tersebut ditutup oleh Ketua Panitia TASLIM, Zulkipli, yang menyampaikan apresiasi kepada seluruh narasumber, peserta, dan pihak yang telah mendukung kegiatan. Diskusi yang berlangsung terbuka itu tidak hanya membahas persatuan dan kebhinekaan, tetapi juga memunculkan pertanyaan besar yang masih menjadi pekerjaan rumah bersama: mengapa Buleleng yang memiliki potensi besar belum mampu tumbuh secepat daerah lain, dan apa yang harus dilakukan agar potensi itu benar-benar memberi manfaat bagi masyarakatnya.
